Dhede

FADILLAH RAMDHANI FADILLAH RAMDHANI

Kamis, 25 Maret 2010

ANEMIA DALAM KEHAMILAN


LANDASAN TEORI

Pengertian

Anemia dalam kehamilan ialah kondisi ibu dengan kadar Hemoglobin dibawah 119% pada trimester 1 dan 3 atau  kadar < 10,5 g%  pada   trimester 2. (Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal Th. 2002).

Nilai batas tersebut dan perbedaannya dengan kondisi wanita tidak hamil terjadi karena hemodilusi, terutama pada TM 2. Penyakit ini dapat dialami oleh segala usia. Anemia hamil disebut “Potensial danger to mother and child” potensial membahayakan ibu dan anak.

Etiologi

-          Kurang gizi (malnutrisi)
-          Kurang zat besi dalam diit
-          Malabsorbsi
-          Kehilangan darah banyak: Persalinan yang lalu, haid, dan lain-lain
-          Penyakit-penyakit konik : TBC, Paru, Cacing usus, Malaria.

Patofisiologis

Darah bertambah banyak dalam kehamilan. Akan tetapi bertambahnya sel-sel darah kurang dibandingkan dengan bertambahnya plasma sehingga terjadi pengenceran darah. Pebandingan pertambahan tersebut : Plasma 30%, sel darah 18%, hemoglobin 19%. Pengenceran darah ini untuk membantu meringankan kerja jantung dan pada perdarahan waktu persalinan unsur besi yang hilang lebih sedikit dibandingkan apabila darah itu tetap kental.



Tanda dan Gejala

-          Lemah
-          Pucat
-          Mudah pingsan sementara tensi normal

Klasifikasi Anemia dalam ke hamilan

1.      Anemia defisiensi Besi
2.      Anemia megaloblastik
3.      Anemia hipoplastik
4.      Anemia Hemolitik (sel sickle)

Gejala Klinik

1.      Anemia Defisiensi Besi
Anemia jenis ini berbentuk normositik dan  hipokromik serta paling banyak dijumpai dalam kehamilan. Anemia defisiensi besi dapat disebabkan karena kurang masuknya unsur besi dengan makanan, karena gangguan reabsorbsi, gangguan penggunaan atau karena terlampau banyaknya besi keluar dari badan misalnya pada perdarahan.

2.      Anemia megaloblastik
Anemia megaloblastik biasanya berbentuk makrositik atau pernisiosa. Penyebabnya adalah karena kekurangan asam folik. Jarang sekali akibat karena kekurangan vitamin B12 biasanya karena mal nutrisi dan infeksi yang kronik.

3.      Anemia Hipoplasti
Anemia hipoplasti disebabkan oleh hipofungsi sumsum tulang, membentuk sel-sel darah merah baru.

4.      Anemia Hemolitik
Anemia hemolitik disebabkan penghancuran/pemecahan sel darah merah yang lebih cepat dari pembuatannya.

Diagnosis

1.      Anemia defisiensi besi
Diagnosis anemia defisiensi besi yang berat tidak sulit karena ditandai cita-cita yang khas bagi defisiensi besi. Yakni mikrositosis dan hipokromasia. Anemia yang ringan tidak selalu menunjukkan ciri-ciri khas itu, bahkan banyak yang bersifat normositer dandi dan normokrom. Hal itu disebabkan karena defisiensi besi dapat berdampingan dengan defisiensi asam folik.

2.      Anemia megaloblastik
Diagnosis anemia megaloblastik dibuat apabila ditemukan mengdoblas atau promega loblas dalam darah atau sumsum tulang. Sifat khas sebagai anemia makrosister dari  hiperkrom tidak selalu dijumpai, kecuali bila anemianya sudah berat.

3.      Anemia hipoplasti
Gambaran darah tepi normositik dan normokromik. Sumsum tulang memberikan gambaran normoblastik dan hipoplasia eritropoiesis.

4.      Anemia hemolitik
Pada anemia ini sebaiknya mencegah kelainan-kelainan darah, kelelahan, kelemahan, serta gejala komplikasi bila terjadi kelainan pada organ-organ vital.

Pengobatan

§  Per oral      : Sulfas ferosus atau glukonas ferosus dengan dosis 3-3x0,20 mg.
§  Perenteral  :  Diberikan bila ibu hamil tidak tahan pemberian peroral atau absorbsi disaluran pencernaan kurang baik. Kemasan diberikan secara intramuskuler atau intravena kemasan ini antaralain: Imferon, jectofer dan ferrigen. Hasilnya lebih cepat dibandingkan per oral.



Hal yang harus diperhatikan

Wanita memerlukan zat besi lebih tinggi dari laki-laki karena terjadi menstruasi dengan perdarahan sebanyak 50-80 cc setiap bulan dan kehilangan zat besi sebesar 30-40 mgr. Selain itu kehamilan memerlukan tambahan zat besi untuk meningkatkan jumlah sel darah merah dan membentuk sel darah merah janin dan plasenta. Makin sering orang hamil dan melahirkan makin banyak kehilangan zat besi dan menjadi makin anemus. Pada kehamilan relatif terjadi anemia karena darah ibu hamil mengalami hemodilusi (pengenceran) dengan peningkatan 30-40% puncaknya pada kehamilan 32-34 minggu. Setelah persalinan, dengan lahirnya plasenta dan perdarahan, ibu yang optimal sehingga dapat menyiapkan ASI untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi.

Hasil pemeriksaan Hb dengan sahli dapat digolongkan sebagai berikut :
-          Hb  11 gr% à tidak anemia
-          Hb 9-10gr% à anemia ringan
-          Hb 7-8gr% à Anemia Sedang
-          Hb < 7gr% à Anemia Berat

1 komentar:

Seti@wan Dirgant@Ra mengatakan...

mampir pertama
Salam kenal sesama blogger Kota kalong

Poskan Komentar

Template by:

Free Blog Templates